Kubenci
butir-butir air suci yang jatuh dari langit. Bahkan gemuruhnya ~Setiap kali
hujan memanggil, pojokan menjadi satu-satunya tempat aku berlindung. Seraya
memakai earphone dan mendengarkan dentingan piano yang jauh lebih indah
daripada suara hujan .
Tuhan .. Maafkan
aku yang sedang kacau ini. Tapi, aku benar-benar tak ingin mendengar lantunan
hujan ~ Tolong sampaikan padanya, jangan memanggilku lagi jika itu hanya angin
Surga ~
Tulisan yang tidak sempat kuposting, setahun yang lalu. Ah, jika kuingat
lagi, betapa berat dan berduri jalan yang aku lalui waktu itu. Jarum detik saja
enggan berjalan cepat, sedangkan aku berharap pada Tuhan agar waktu segera
berlalu. Toh, apa gunanya ? Jika aku hanya menunggu waktu berlalu seraya bersantai
di atas tempat tidur ? Dengan sarapan yang tak karuan, segelas kopi hangat di
pagi harinya dan beberapa gelas kopi dingin pada siang sampai malam hari.
Kuteguk tanpa merasa buruk sama sekali. Segala cara kulakukan agar bisa segera
pergi dalam keadaan ini .
Segalanya tentang setahun yang lalu. Saat dimana aku
sangat membenci hujan. Saat dimana aku sadar, bahwa aku sedang melarikan diri
dari realita dan menciptakan ilusi –yang kutau adalah abu-abu .
Setahun yang
lalu.
Kenapa aku membenci hujan ? Hujan adalah saksi atas kenangan yang tak ingin
kuingat lagi. Sejauh apa pun pun aku berlari, hujan bisa mengejarku lebih
cepat. Hujan benar-benar menginginkan aku menangis dibawah langitnya. Dan saat
itu tiba, aku menangis bersama hujan. Dan
aku baru sadar kenapa hujan mengejarku ? Hujanlah yang menyamarkan air mataku
menjadi dentingan butiran yang tak diketahui orang-orang. Tak seorang pun
yang tahu, bahwa aku sedang menangis bersama hujan .
Setahun yang
lalu .. Aku masih membencimu hujan ~ Di satu sisi, kau menjaga harga diriku.
Tapi di sisi lainnya, kau mengorek lagi luka lama. Aku tahu .. Aku tahu! Bukan
luka yang kau lihat saat itu, tapi berupa kenangan indah nan manis yang aku
rasakan. Bisakah kau jangan memanggilku lagi ? Aku .. Benar-benar tak ingin
merasakan angin Surga lagi . Cukup . Bagiku ini cukup .
Aahh ~ Setahun yang lalu aku benar-benar kacau.
Hanya karena kehilangan arti keluarga yang sebenarnya, dan kehilangan
orang-orang yang berarti, aku sampai membenci hujan. Hal yang tidak adil .
Bagaimana kalau kita tutup buku tentang setahun yang
lalu ? Semoga saja, hujan tidak membenciku karena kebencian yang kulontarkan
setahun yang lalu ya ~ Hujan, kau akan
selalu berada disisi, bukan ?
Bicara tentang masa kini. Ya ~ Today is a gift.
Keputusanku mutlak. Bahwa aku sangat bersyukur atas
apa yang aku miliki sekarang. Apakah aku pernah melakukan hal baik di masa lalu
sehingga Tuhan memberikan kebaikan-Nya padaku saat ini ? Entahlah ~ Aku tidak
ingat kebaikan apa yang telah aku lakukan dulu . Yang pasti, aku memiliki sebuah
keluarga yang amat mencintaiku, sahabat-sahabat yang jalan berdampingan
denganku, dan seseorang yang Tuhan hadiahkan untukku. My Namja.
Pria yang kutemui saat langit tak bersahabat baik.
Namun, telah memberikan hikmah lain di balik itu. Lagi-lagi karena .. hujan ~ Aaah .. Apa yang harus kutulis ya ?
“ Hujan ~ Kau
memberiku masalah baru. Karenamu, aku telah jatuh cinta pada seorang pria.
Matanya, desahan nafasnya, dan ekspresinya saat menggigil kedinginan. Awalnya
kutepis, tapi kau membuatku berbalik, untuk kembali memikirkan dengan baik-baik
apakah aku berhak mendapatkan cinta yang layak lagi ? Mendapatkan kebahagiaan
yang pernah terenggut. Dan mulai membuka hati kecilku, akankah yang kucari ada
di pria ini ? “
Tiap kali jawaban itu kutemukan, pasti ada kau
disisiku. Menjadi saksi bisu atas cinta yang sedang aku rajut bersama pria ini
.
Kurasakan
dekapan hangatnya, saat kau mulai menciptakan nuansa dingin. Kurasakan kuatnya
keinginan kami untuk tetap bersama, saat kau nyalakan cahaya-cahaya langit dan
gemuruh besar. Aku tahu, pria ini akan menjagaku. Semampu yang ia bisa ~ Kurasakan
aliran darahnya, detak jantungnya, .. Ah, aku mencintainya hujan ~ Aku
mencintai pria ini sebagaimana kau mengajarkanku, bagaimana harusnya aku
menerima antara realita dan ilusi. Bagaimana aku harus merelakan kenangan yang
telah pergi, dan menerima kenangan baru yang telah direncanakan Tuhan untukku.
Awalnya, musim
hujan selalu identik dengan kemurungan. Lalu berubah menjadi kebahagiaan yang
tiada tara. Menciptakan tawa dan senyum yang indah. Menjadikan tangis, dan
emosi sebagai pengukuhan ikatan batin antara aku dengannya ~
Tulisku di tahun ini, maaf aku pernah- begitu membencimu hujan. Bahkan menyalahkanmu
atas tindak burukku selama ini. Menjadikan kau polemik masalah yang tak
berakar. Tidak bersyukurkah aku telah
memilikimu selama ini ?
Hey, maukah kau mendengar berita baik ? Sekarang,
aku tak takut lagi dengan semua perkataan orang-orang luar. Dimana ada cerita,
jika aku dipertemukan dengan jodoh saat hujan, maka hujan pula yang akan
memisahkan kami . Karena kutahu, bukan mereka yang membuat skenario kehidupan
milikku .Tuhan pasti telah menulis naskah yang baik untukku.
Tentunya, Tuhan tidak akan menyeret hambanya ke
jalan yang buruk bukan ? Jika aku percaya dengan segala kebaikan yang telah
Tuhan berikan, maka Tuhan telah menyiapkan hal yang baik untukku.
Dan kau, hujan .. Kau adalah media di hidupku. Media
antara aku dan masa laluku. Media antara aku dengan masa kini . Dan media
antara aku dengan masa depanku ~ Selamanya,
kau akan berada di sisiku. Aku telah memilih jalanku, entah itu yang lurus,
berkelok, berbatu bahkan berduri, karena aku percaya Tuhan telah menuliskan
takdir-Nya untukku.
“ I love you, my
namja. Pria yang kutemui ketika hujan ~ “ bisikku pelan
sambil menulis. Hujan, akankah dia
mendengar bisikku ?
·
To
whom it may concern, you know who you are . Both of us have made a choice and I
believe no one falls out by chance . It’s by choice ~ #Jo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar