Sabtu, 03 Mei 2014

ALL AND EVERYTHING



Awalnya, musim hujan selalu identik dengan kemurungan. Lalu, ternyata mengubah ilusi dan realita yang pernah jalan berdampingan, menjadi sesuatu yang jelas –hitam dan putih. Tak lagi abu-abu .

Kubenci butir-butir air suci yang jatuh dari langit. Bahkan gemuruhnya ~Setiap kali hujan memanggil, pojokan menjadi satu-satunya tempat aku berlindung. Seraya memakai earphone dan mendengarkan dentingan piano yang jauh lebih indah daripada suara hujan .

Tuhan .. Maafkan aku yang sedang kacau ini. Tapi, aku benar-benar tak ingin mendengar lantunan hujan ~ Tolong sampaikan padanya, jangan memanggilku lagi jika itu hanya angin Surga ~


Tulisan yang tidak sempat kuposting, setahun yang lalu. Ah, jika kuingat lagi, betapa berat dan berduri jalan yang aku lalui waktu itu. Jarum detik saja enggan berjalan cepat, sedangkan aku berharap pada Tuhan agar waktu segera berlalu. Toh, apa gunanya ? Jika aku hanya menunggu waktu berlalu seraya bersantai di atas tempat tidur ? Dengan sarapan yang tak karuan, segelas kopi hangat di pagi harinya dan beberapa gelas kopi dingin pada siang sampai malam hari. Kuteguk tanpa merasa buruk sama sekali. Segala cara kulakukan agar bisa segera pergi dalam keadaan ini .

Segalanya tentang setahun yang lalu. Saat dimana aku sangat membenci hujan. Saat dimana aku sadar, bahwa aku sedang melarikan diri dari realita dan menciptakan ilusi –yang kutau adalah abu-abu .

Setahun yang lalu. Kenapa aku membenci hujan ? Hujan adalah saksi atas kenangan yang tak ingin kuingat lagi. Sejauh apa pun pun aku berlari, hujan bisa mengejarku lebih cepat. Hujan benar-benar menginginkan aku menangis dibawah langitnya. Dan saat itu tiba, aku menangis bersama hujan. Dan aku baru sadar kenapa hujan mengejarku ? Hujanlah yang menyamarkan air mataku menjadi dentingan butiran yang tak diketahui orang-orang. Tak seorang pun yang tahu, bahwa aku sedang menangis bersama hujan .

Setahun yang lalu .. Aku masih membencimu hujan ~ Di satu sisi, kau menjaga harga diriku. Tapi di sisi lainnya, kau mengorek lagi luka lama. Aku tahu .. Aku tahu! Bukan luka yang kau lihat saat itu, tapi berupa kenangan indah nan manis yang aku rasakan. Bisakah kau jangan memanggilku lagi ? Aku .. Benar-benar tak ingin merasakan angin Surga lagi . Cukup . Bagiku ini cukup . 

Aahh ~ Setahun yang lalu aku benar-benar kacau. Hanya karena kehilangan arti keluarga yang sebenarnya, dan kehilangan orang-orang yang berarti, aku sampai membenci hujan. Hal yang tidak adil .

Bagaimana kalau kita tutup buku tentang setahun yang lalu ? Semoga saja, hujan tidak membenciku karena kebencian yang kulontarkan setahun yang lalu ya ~ Hujan, kau akan selalu berada disisi, bukan ?

Bicara tentang masa kini. Ya ~ Today is a gift

Keputusanku mutlak. Bahwa aku sangat bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang. Apakah aku pernah melakukan hal baik di masa lalu sehingga Tuhan memberikan kebaikan-Nya padaku saat ini ? Entahlah ~ Aku tidak ingat kebaikan apa yang telah aku lakukan dulu . Yang pasti, aku memiliki sebuah keluarga yang amat mencintaiku, sahabat-sahabat yang jalan berdampingan denganku, dan seseorang yang Tuhan hadiahkan untukku. My Namja

Pria yang kutemui saat langit tak bersahabat baik. Namun, telah memberikan hikmah lain di balik itu. Lagi-lagi karena .. hujan ~ Aaah .. Apa yang harus kutulis ya ?

“ Hujan ~ Kau memberiku masalah baru. Karenamu, aku telah jatuh cinta pada seorang pria. Matanya, desahan nafasnya, dan ekspresinya saat menggigil kedinginan. Awalnya kutepis, tapi kau membuatku berbalik, untuk kembali memikirkan dengan baik-baik apakah aku berhak mendapatkan cinta yang layak lagi ? Mendapatkan kebahagiaan yang pernah terenggut. Dan mulai membuka hati kecilku, akankah yang kucari ada di pria ini ? “

Tiap kali jawaban itu kutemukan, pasti ada kau disisiku. Menjadi saksi bisu atas cinta yang sedang aku rajut bersama pria ini .

Kurasakan dekapan hangatnya, saat kau mulai menciptakan nuansa dingin. Kurasakan kuatnya keinginan kami untuk tetap bersama, saat kau nyalakan cahaya-cahaya langit dan gemuruh besar. Aku tahu, pria ini akan menjagaku. Semampu yang ia bisa ~ Kurasakan aliran darahnya, detak jantungnya, .. Ah, aku mencintainya hujan ~ Aku mencintai pria ini sebagaimana kau mengajarkanku, bagaimana harusnya aku menerima antara realita dan ilusi. Bagaimana aku harus merelakan kenangan yang telah pergi, dan menerima kenangan baru yang telah direncanakan Tuhan untukku. 

Awalnya, musim hujan selalu identik dengan kemurungan. Lalu berubah menjadi kebahagiaan yang tiada tara. Menciptakan tawa dan senyum yang indah. Menjadikan tangis, dan emosi sebagai pengukuhan ikatan batin antara aku dengannya ~

Tulisku di tahun ini, maaf aku pernah-  begitu membencimu hujan. Bahkan menyalahkanmu atas tindak burukku selama ini. Menjadikan kau polemik masalah yang tak berakar. Tidak bersyukurkah aku telah memilikimu selama ini ?
 
Hey, maukah kau mendengar berita baik ? Sekarang, aku tak takut lagi dengan semua perkataan orang-orang luar. Dimana ada cerita, jika aku dipertemukan dengan jodoh saat hujan, maka hujan pula yang akan memisahkan kami . Karena kutahu, bukan mereka yang membuat skenario kehidupan milikku .Tuhan pasti telah menulis naskah yang baik untukku.

Tentunya, Tuhan tidak akan menyeret hambanya ke jalan yang buruk bukan ? Jika aku percaya dengan segala kebaikan yang telah Tuhan berikan, maka Tuhan telah menyiapkan hal yang baik untukku. 

Dan kau, hujan .. Kau adalah media di hidupku. Media antara aku dan masa laluku. Media antara aku dengan masa kini . Dan media antara aku dengan masa depanku ~ Selamanya, kau akan berada di sisiku. Aku telah memilih jalanku, entah itu yang lurus, berkelok, berbatu bahkan berduri, karena aku percaya Tuhan telah menuliskan takdir-Nya untukku. 

“ I love you, my namja. Pria yang kutemui ketika hujan ~ “ bisikku pelan sambil menulis. Hujan, akankah dia mendengar bisikku ?


·         To whom it may concern, you know who you are . Both of us have made a choice and I believe no one falls out by chance . It’s by choice ~ #Jo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar