Senin, 23 Februari 2015

Peran Media Massa dalam Pembangunan di Aceh Utara



  B

anyak beberapa persepsi orang-orang mengenai bagaimana peran media massa saat ini terhadap pembangunan di Aceh, khususnya Aceh Utara. Berbagai pandangan menunjukkan bahwa kinerja media massa sudah sangat kencang terhadap pembangunan di Acut. Namun, ada juga di beberapa poin yang menunjukkan bahwa kinerja media massa belum maksimal.

Salah satunya, media kencang mendorong pembangunan Acut. Contohnya media mendorong agar pemindahan ibukota dari Lhokseumawe ke Lhoksukon sesuai aturan yang ada. Media juga mendorong agar ada beasiswa secara rutin, dan itu sudah terealisasi. Itu adalah beberapa desakan media selama ini. 


Secara umum, peran media massa pun saat ini sudah sangat bagus. Hampir di setiap pembangunan, beritanya itu dipublish ke media dan ini bertujuan agar masyarakat tahu tentang pembangunan yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Karena, tanpa media, pembangunan tidak mungkin dapat dilakukan dengan maksimal. Karena itulah, media sangat berperan dalam pembangunan .

Media massa pengaruhnya besar, dan juga memiliki nilai positif. Karena, sebagai media massa ada 3 efek. Yaitu sebagai kognitif, afektif dan konotatif. Media juga dengan segala kritiknya telah mendorong tumbuhnya rangsangan bagi pemegang kebijakan untuk terus memperbaiki. Dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Contohnya saja, pemerintah saat ini, merasa malu kalau di media muncul gambar anak yang bergizi buruk. Lalu, pemberitaan mengenai jalanan yang penuh dengan lubang sampai-sampai ditanami batang pisang. Karena hal-hal sekecil itu pun yang menjadi barometer keberhasilan mereka memimpin. Kalau berita seperti itu terus yang muncul, mereka akan takut dijudge oleh publik bahwa mereka tidak mampu mengurus daerahnya. Sehingga berpotensi tidak dipilih lagi pada masa yang akan datang. Dari sini terlihat jelas bagaimana ketakutan mereka terhadap sikap acuh tak acuhnya. 

Namun, ada juga beberapa pembangunan yang banyak dikerjakan, tapi tak tersentuh oleh sorotan media. Mungkin dikarenakan daerah-daerah tersebut jauh dari wilayah perkotaan. 

Umumnya, peran media massa saat ini selalu menginfokan perkembangan pembangunan. Lalu, adanya pemberitaan tentang infrastruktur sehingga menjadi perhatian publik dan pemerintah itu sendiri. Karena setiap pemberitaan media akan selalu menjadi perhatian bagi pemerintah .

Peran media massa saat ini untuk pembangunan di Acut ada segi kurangnya juga. Jika dilihat dari segi komunikasi massa, media massa yang seharusnya menjadi corong informasi dua belah pihak (pemerintah vs masyarakat) malah memposisikan dirinya pada pihak yang menciptakan suatu berita (isu tertentu). Sehingga pembangunan kurang berjalan, sosialisasi rancangan pembangunan antara pemerintah kepada masyarakat juga kurang tepat sasaran .

Media massa ikut memberitakan seputar pembangunan di Acut, baik itu pembangunan fisik maupun nonfisik. Misalnya, media massa mengekspos tentang berita-berita infrastruktur yang rusak. Sekolah-sekolah daerah pedalaman yang memprihatinkan karena minim fasilitas. Dan media massa pun ikut memberitakan soal anggaran-anggaran yang dikeluarkan pemerintah yang dialokasikan bagi pembangunan daerah. Misalnya, media yang kritis memberitakan anggaran pembangunan Islamic Centre di Lhokseumawe. Lalu ada juga anggaran pembangunan kantor Bupati Acut yang baru. 

Seharusnya, pers menjadi lembaga kontrol sosial dan lembaga kritik di Acut. Sejauh ini, media belum berperan maksimal dalam melakukan pengontrolan dan kritik. Media massa baru sebatas melaporkan berbagai peristiwa untuk masyarakat. Belum ada liputan mendalam mengenai pembangunan. Kritik pun disampaikan lebih pada kepentingan jangka pendek media massa. Kondisi ini diperparah dengan pemerintah Acut yang tidak memiliki visi dalam pembangunan. Pemkab tidak memiliki cetak biru pembangunan untuk jangka panjang.

Karena itulah, harusnya media massa bisa berperan lebih optimal. Penting untuk mempublikasikan kondisi riil pembangunan Acut. Pada kedua sisi, misalnya kondisi-kondisi positif atas pencapaian kinerja pembangunan. Hal ini bisa dijadikan bahan pelajaran untuk prosese pembangunan pada berbagai aspek lainnya. Kondisi negative, juga penting untuk dipublish. Untuk dijadikan bahan evaluasi. 

Nah, media massa di Acut, kurang berperan aktif dalam pembangunan, dikarenakan kurangnya rubric dan juga opini, baik dari publik dan pemerintah yang membahas secara detail dan terfokus pada pembangunan di Aceh khususnya pasca konflik, karena mengingat Aceh saat ini masing disokong dana yang besar dari pemerintah. Yaitu Dana Otonomi Khusus (OTSUS) . Lalu, minimnya media massa yang tersebar di seluruh pelosok Aceh membuat masyarakat hanya mendapatkan berita yang diedarkan dari beberapa Koran ternama saja, selebihnya oleh harian online. Kalau dikaitkan ke Acut, Acut termasuk kabupaten yang masih berkembang, masih banyak daerah-daerah yang belum terjamahi oleh pembangunan, peran media massa juga terkadang tidak bisa menjangkau daerah-daerah pelosok disana. Dan kondisi Aceh terkini yang kita lihat lebih mengarah kepada isu-isu politik dan sosial, jarang kita mendengar isu-isu soal pembangunan yang memang merupakan rencana besar.














REFERENSI
Hasil penuturan orang-orang yang mengerti tentang perkembangan media massa terhadap pembangunan di Aceh, khususnya Aceh Utara.
-          Masriadi Sambo
-          Ayi Jufridar
-          Zainal Bakrie
-          Masrur
-          Murdani Rajuli
-          Rizky Munandar
-          T. Khairu Syukrillah
-          Nanda Amalia
-          Nanda Feriana
-          Ahmad Firdaus

Credit : FR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar