|
B
|
anyak beberapa persepsi orang-orang mengenai
bagaimana peran media massa saat ini terhadap pembangunan di Aceh, khususnya
Aceh Utara. Berbagai pandangan menunjukkan bahwa kinerja media massa sudah
sangat kencang terhadap pembangunan di Acut. Namun, ada juga di beberapa poin
yang menunjukkan bahwa kinerja media massa belum maksimal.
Salah satunya, media kencang
mendorong pembangunan Acut. Contohnya media mendorong agar pemindahan ibukota
dari Lhokseumawe ke Lhoksukon sesuai aturan yang ada. Media juga mendorong agar
ada beasiswa secara rutin, dan itu sudah terealisasi. Itu adalah beberapa
desakan media selama ini.
Secara umum, peran media massa pun
saat ini sudah sangat bagus. Hampir di setiap pembangunan, beritanya itu dipublish ke media dan ini bertujuan agar
masyarakat tahu tentang pembangunan yang sedang dijalankan oleh pemerintah.
Karena, tanpa media, pembangunan tidak mungkin dapat dilakukan dengan maksimal.
Karena itulah, media sangat berperan dalam pembangunan .
Media massa pengaruhnya besar, dan
juga memiliki nilai positif. Karena, sebagai media massa ada 3 efek. Yaitu
sebagai kognitif, afektif dan konotatif. Media juga dengan segala kritiknya
telah mendorong tumbuhnya rangsangan bagi pemegang kebijakan untuk terus
memperbaiki. Dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Contohnya saja,
pemerintah saat ini, merasa malu kalau di media muncul gambar anak yang bergizi
buruk. Lalu, pemberitaan mengenai jalanan yang penuh dengan lubang
sampai-sampai ditanami batang pisang. Karena hal-hal sekecil itu pun yang
menjadi barometer keberhasilan mereka memimpin. Kalau berita seperti itu terus
yang muncul, mereka akan takut dijudge
oleh publik bahwa mereka tidak mampu mengurus daerahnya. Sehingga berpotensi
tidak dipilih lagi pada masa yang akan datang. Dari sini terlihat jelas
bagaimana ketakutan mereka terhadap sikap acuh tak acuhnya.
Namun, ada juga beberapa
pembangunan yang banyak dikerjakan, tapi tak tersentuh oleh sorotan media.
Mungkin dikarenakan daerah-daerah tersebut jauh dari wilayah perkotaan.
Umumnya, peran media massa saat ini
selalu menginfokan perkembangan pembangunan. Lalu, adanya pemberitaan tentang
infrastruktur sehingga menjadi perhatian publik dan pemerintah itu sendiri.
Karena setiap pemberitaan media akan selalu menjadi perhatian bagi pemerintah .
Peran media massa saat ini untuk
pembangunan di Acut ada segi kurangnya juga. Jika dilihat dari segi komunikasi
massa, media massa yang seharusnya menjadi corong informasi dua belah pihak
(pemerintah vs masyarakat) malah memposisikan dirinya pada pihak yang
menciptakan suatu berita (isu tertentu). Sehingga pembangunan kurang berjalan,
sosialisasi rancangan pembangunan antara pemerintah kepada masyarakat juga
kurang tepat sasaran .
Media massa ikut memberitakan
seputar pembangunan di Acut, baik itu pembangunan fisik maupun nonfisik.
Misalnya, media massa mengekspos tentang berita-berita infrastruktur yang
rusak. Sekolah-sekolah daerah pedalaman yang memprihatinkan karena minim
fasilitas. Dan media massa pun ikut memberitakan soal anggaran-anggaran yang
dikeluarkan pemerintah yang dialokasikan bagi pembangunan daerah. Misalnya,
media yang kritis memberitakan anggaran pembangunan Islamic Centre di Lhokseumawe. Lalu ada juga anggaran pembangunan
kantor Bupati Acut yang baru.
Seharusnya, pers menjadi lembaga
kontrol sosial dan lembaga kritik di Acut. Sejauh ini, media belum berperan
maksimal dalam melakukan pengontrolan dan kritik. Media massa baru sebatas
melaporkan berbagai peristiwa untuk masyarakat. Belum ada liputan mendalam
mengenai pembangunan. Kritik pun disampaikan lebih pada kepentingan jangka
pendek media massa. Kondisi ini diperparah dengan pemerintah Acut yang tidak
memiliki visi dalam pembangunan. Pemkab tidak memiliki cetak biru pembangunan untuk
jangka panjang.
Karena itulah, harusnya media massa
bisa berperan lebih optimal. Penting untuk mempublikasikan kondisi riil
pembangunan Acut. Pada kedua sisi, misalnya kondisi-kondisi positif atas
pencapaian kinerja pembangunan. Hal ini bisa dijadikan bahan pelajaran untuk
prosese pembangunan pada berbagai aspek lainnya. Kondisi negative, juga penting
untuk dipublish. Untuk dijadikan
bahan evaluasi.
Nah, media massa di Acut, kurang
berperan aktif dalam pembangunan, dikarenakan kurangnya rubric dan juga opini,
baik dari publik dan pemerintah yang membahas secara detail dan terfokus pada
pembangunan di Aceh khususnya pasca konflik, karena mengingat Aceh saat ini
masing disokong dana yang besar dari pemerintah. Yaitu Dana Otonomi Khusus
(OTSUS) . Lalu, minimnya media massa yang tersebar di seluruh pelosok Aceh
membuat masyarakat hanya mendapatkan berita yang diedarkan dari beberapa Koran
ternama saja, selebihnya oleh harian online.
Kalau dikaitkan ke Acut, Acut termasuk kabupaten yang masih berkembang, masih
banyak daerah-daerah yang belum terjamahi oleh pembangunan, peran media massa
juga terkadang tidak bisa menjangkau daerah-daerah pelosok disana. Dan kondisi Aceh
terkini yang kita lihat lebih mengarah kepada isu-isu politik dan sosial,
jarang kita mendengar isu-isu soal pembangunan yang memang merupakan rencana
besar.
REFERENSI
Hasil penuturan orang-orang yang
mengerti tentang perkembangan media massa terhadap pembangunan di Aceh,
khususnya Aceh Utara.
-
Masriadi Sambo
-
Ayi Jufridar
-
Zainal Bakrie
-
Masrur
-
Murdani Rajuli
-
Rizky Munandar
-
T. Khairu Syukrillah
-
Nanda Amalia
-
Nanda Feriana
-
Ahmad Firdaus
Credit : FR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar