24
Coba
kamu katakan kepadaku, haruskah aku membencimu karena kamu hadir begitu
saja dalam hidupku, meninggalkan banyak sekali kenangan yang hingga
detik ini tak bisa hilang dari pikiranku, lalu dengan mudahnya kamu
pergi dari hidupku? Haruskah aku mengutukmu karena kamu begitu mudah
mengubah perasaan cinta menjadi biasa? Atau sejak semula memang tak
pernah ada rasa itu dalam hatimu?
Berkali-kali aku bertanya pada
hatiku, apa yang salah dengan diriku sehingga kamu melakukan semuanya
ini padaku? Maaf, itu yang selalu kamu ucapkan. Semudah itukah kata maaf
terucap? Tolong katakan kepadaku jika memang kata maaf dapat
mengembalikan semuanya kembali seperti sediakala di saat kamu belum
masuk ke dalam hidupku dan memporak-porandakan apa yang telah kubangun
dengan susah payah. Dan tolong kamu katakan pada hatiku untuk tetap
percaya pada keajaiban cinta karena ia baru saja mengenal arti percaya.
Kalau kamu bisa membantuku, tolong
cuci otakku agar aku tak lagi mengingat semua kenangan yang pernah
tercipta di antara kita. Tolong bantu aku untuk menghapus semuanya.
Semuanya. Dari awal kamu memakai id ym, yang kini tak lagi kamu gunakan,
untuk menyapaku. Ketika setiap kata darimu membantuku bangkit dari
keterpurukan. Dan hingga dari mulut yang sama keluar kata-kata yang
seketika itu juga langsung membuatku terpuruk. Hapus semuanya, sehingga
aku tak perlu merasakan penderitaan seperti ini.
Tolong jawab aku,
Aku tak sengaja membuka draft
email yang pernah kubuat satu bulan lalu. Meskipun surat itu belum
selesai kubuat dan tak pernah terkirim kepada alamat tujuan, entah
mengapa hati ini tetap saja sedih setelah membaca penggalan paragraf
yang sempat kubuat. Everything’s happened by a reason, hmm, aku
bahkan tak bisa menerima alasan apapun. Aku ingin berteriak sekeras
mungkin jika memang hal itu dapat meringankan beban di hatiku, namun aku
tak bisa. Sejak kecil aku tak pernah bisa meringankan beban yang sedang
kutanggung dengan berteriak. Bahkan tangisan yang membuat mataku
bengkak tak terkendali pun tetap tak bisa menghilangkan rasa sedih ini.
Aku terbiasa menyimpan semuanya sendiri, dan berharap waktu dapat
menghilangkan rasa sedih ini. Waktu… tadinya aku berharap waktu dapat
menyembuhkan lukaku. Sudah berapa lama? Atau mungkin bukan sudah berapa
lama, tapi masih harus berapa lama lagi kutanggung luka ini sendiri?
Hhh, bahkan waktu saja tak bisa menjawabnya untukku.
Mengingat kembali semuanya, aku pun
kembali berpikir siapa yang seharusnya disalahkan. Haruskah aku
menyalahkan dia? Atau haruskah aku menyalahkan wanita yang kini merajai
hatinya? Atau mungkin menyalahkan diriku sendiri yang sekali lagi telah
lalai memperhatikan peringatan alam sejak semula? Kepala ini kembali
bermain dengan pengandaian. Seandainya sejak awal aku berani memutuskan.
Seandainya sejak awal dia tidak masuk ke dalam hidupku. Seandainya
sekali saja aku bisa menjadi orang yang egois tanpa memikirkan perasaan
orang lain. Dan aku berani bertaruh, jika permainan ini kulanjutkan maka
kamu akan menemukan tulisan ini seperti sampah tanpa tujuan.
Lalu aku ingat hari itu aku sedang iseng
membuka arsip tulisanku yang lama. Mataku terpaku pada tulisan yang
berjudul Contemplation. Di sana aku bercerita mengenai kepasrahan daun
yang menerima dirinya lepas dari pohon. Entah karena pohon yang tidak
kuat menahannya atau memang angin yang terlalu kencang meniupnya. Ada
satu kemiripan dengan apa yang ku alami saat ini. Namun terdapat satu
perbedaan yang sangat besar antara aku dan daun. Daun tak pernah
menyalahkan angin yang meniup dirinya hingga terlepas dari genggaman
pohon. Daun juga tak menyalahkan pohon yang begitu mudah melepaskan
dirinya. Tapi daun menyerahkan semuanya kepada takdir. Seperti itulah
seharusnya yang terjadi, maka daun menyerahkan segalanya kepada alam.
Mengingatnya sungguh membuatku malu.
Begitu kontras dengan pemikiranku yang sempat mencari-cari siapa atau
apa yang salah dalam kejadian yang kualami. Tidak ada yang salah.
Semuanya telah terjadi dan takdir telah mengaturnya sedemikian rupa
sehingga aku harus mengalami semuanya ini. Dia tidak bersalah. Wanita
itu tidak bersalah. Dan yang pasti aku juga tidak bersalah. Waktu
kebersamaan kami telah usai dan tiba saatnya ia mengalami kebersamaan
dengan yang lain. Aku sadar sangat sulit bagiku untuk kembali membangun
kepercayaan yang baru saja runtuh, tapi aku percaya, sama seperti daun
yang jatuh dan menjadi pupuk bagi akar pohon tempat ia terjatuh, begitu
juga dengan apa yang telah kualami. Kebahagiaan telah berpindah. Dan
semoga aku dapat menemukan kebahagiaan lain yang sama indahnya