Have you ever been in love, been in
love so bad ?
You’d do anything to make them
understand ?
Have you ever had someone steal
your heart away ?
You’d give anything to make them
feel the same ?
Have you ever searched for words to
get you in their heart ?
Ya ~ Lirik lagu yang sempat
dipopulerkan oleh Brandy yang berjudul “ Have You Ever “ menendangku dengan telak.
Terputar lagi segala momen yang sempat terlupa. Merasakan lagi betapa pedihnya
hatiku saat itu. Coba saja tanyakan pada hatiku ? Apa dia masih bisa mengobati
lukanya sendiri yang masih basah ? Tentu saja jawabannya tidak. Karena aku pun
hanya bisa membasuh luka ini dengan membawanya masuk ke dalam momen terindah
yang pernah aku ciptakan bersama gadis itu.
Masih terasa jelas, bagaimana mata
pisaunya dengan telak menikam jantungku yang sudah remuk karena
pengkhianatannya. Melepaskan mata emosiku pada sesuatu yang tak harusnya aku
lakukan. Kalau saja iblis berhasil menggoda, akan kucabut mata pisau yang sudah
tertikam di jantung ini dan balik menancapkan mata pisau yang sudah berdarah
itu ke dalam jantungnya. Lalu, aku akan tertawa dengan lantang menikmati fase
penderitaan yang menjadi tontonan dari mata kesedihanku ini. Tapi tidak, alih-alih
membalaskan sakit hatiku, aku malah tertunduk, memejamkan mata yang memerah
ini. Lalu terjatuh lemas seraya mengatur nafas yang tak karuan. Aku emosi ~
Tapi -apa yang dapat aku lakukan ? Aku
terlalu mencintai gadis itu, sampai-sampai membuatku tak bisa menyakitinya .
“ Sudah pernah kutegaskan, jangan
memaksaku agar mau kembali lagi padamu.Buka matamu lebar-lebar ! Dengarkan
baik-baik ! Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Iris ! Kenapa kau tidak bisa
menyadari kebenaran itu ha ? “ . Pernyatannya jelas membuatku tertampar.
Ketika aku memutuskan untuk
mencintai, kenapa aku tidak bisa menyadari kalau cintaku telah tumbuh begitu
dalam ? Tidak tahu pasti kapan -tepatnya aku mulai merasakan takut kehilangan
gadis itu, -Arin. Rasa ini makin menjalar entah kemana. Membuntukan otakku,
bahkan membutakan mata hatiku. Sadar atau tidak tidak, cinta ini tumbuh dengan
liarnya. Mencari segala cara agar bisa menunjukkan betapa aku sangat mencintai
Arin. Melakukan hal-hal bodoh, sampai nekat mendaki puncak hanya untuk
berteriak , “ AKU SANGAT MENCINTAIMU,
ARIN!! “ .
Saat aku memilih untuk jatuh cinta,
bahkan aku bukan lagi Iris yang sama. Bukan Iris yang aku kenal. Merasa bahwa
cinta yang aku punya ini bukanlah cinta semu, ini begitu nyata dan sejati. Ini
cinta mati. Dan Arin harus percaya itu. Dengan segala pembuktian, aku berusaha
dengan begitu keras dan gigihnya agar
Arin juga merasakan cinta yang kuat –sama persis seperti cintaku padanya. Tapi
lagi-lagi cinta ini sudah membutakan jalan pikiranku. Bagaimana mungkin Arin
bisa memiliki kadar cinta yang sama persis seperti milikku ? Bisa saja aku yang
terlalu mencintainya, sedangkan ia hanya menerima segala tumpahan kasih
sayangku. Sekali lagi, Arin tidak akan mencintai aku seperti aku mencintainya.
Hanya aku yang mencintainya sekuat ini, orang lain tidak akan bisa.
Berhasilkah usahaku ? Aku pun tidak
tahu ~ Arin yang tahu jawabannya. Sekarang yang aku lakukan, harus mulai
darimana lagi ? Agar aku benar-benar bisa berada di dalam hatinya. Nyaris saja
aku buta jalan, sekali lagi –karena cinta ini begitu kuat dan besar .
Kisah ini tak jauh berbeda dari
pendahuluku. Sama seperti orang-orang diluar sana. Merasakan bagaimana
mencintai dan dicintai ~ Berhenti menangis saat berada dalam dekapannya.
Tertawa bersama. Menginjak bara panas pun bersama-sama juga. Dan pada akhirnya
saling membunuh perasaan satu sama lain. Dengan tikaman yang langsung terhunus
ke dalam jantung, atau dengan sebuah pengkhianatan yang aku sadari di puncak
kisah cinta kami. Lagi ? Sebenarnya terasa sakit memang saat kita tak bisa lagi
menjadi penyangga cintanya. Sebenarnya terasa sakit memang saat kita ditusuk
dari belakang tanpa terdengar kata maaf atau merasa sesal. Sebenarnya terasa
sakit memang saat tahu bahwa pengkhianat yang paling berbahaya itu adalah cinta
kita sendiri.
Bagaimana mengadilinya ? Hanya Tuhan yang punya kehendak-Nya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar