Kamis, 30 Januari 2014

[STORY] NO ONE FALLS IN LOVE BY CHOICE, BUT BY "CHANCE"

Have you ever been in love, been in love so bad ?
You’d do anything to make them understand ?
Have you ever had someone steal your heart away ?
You’d give anything to make them feel the same ?
Have you ever searched for words to get you in their heart ?
But you don’t know what to say and you don’t know where to start ?

            Ya ~ Lirik lagu yang sempat dipopulerkan oleh Brandy yang berjudul “ Have  You Ever “ menendangku dengan telak. Terputar lagi segala momen yang sempat terlupa. Merasakan lagi betapa pedihnya hatiku saat itu. Coba saja tanyakan pada hatiku ? Apa dia masih bisa mengobati lukanya sendiri yang masih basah ? Tentu saja jawabannya tidak. Karena aku pun hanya bisa membasuh luka ini dengan membawanya masuk ke dalam momen terindah yang pernah aku ciptakan bersama gadis itu. 

 
            Masih terasa jelas, bagaimana mata pisaunya dengan telak menikam jantungku yang sudah remuk karena pengkhianatannya. Melepaskan mata emosiku pada sesuatu yang tak harusnya aku lakukan. Kalau saja iblis berhasil menggoda, akan kucabut mata pisau yang sudah tertikam di jantung ini dan balik menancapkan mata pisau yang sudah berdarah itu ke dalam jantungnya. Lalu, aku akan tertawa dengan lantang menikmati fase penderitaan yang menjadi tontonan dari mata kesedihanku ini. Tapi tidak, alih-alih membalaskan sakit hatiku, aku malah tertunduk, memejamkan mata yang memerah ini. Lalu terjatuh lemas seraya mengatur nafas yang tak karuan. Aku emosi ~ Tapi -apa yang dapat aku lakukan ? Aku terlalu mencintai gadis itu, sampai-sampai membuatku tak bisa menyakitinya .

                        “ Sudah pernah kutegaskan, jangan memaksaku agar mau kembali lagi padamu.Buka matamu lebar-lebar ! Dengarkan baik-baik ! Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Iris ! Kenapa kau tidak bisa menyadari kebenaran itu ha ? “ . Pernyatannya jelas membuatku tertampar. 

            Ketika aku memutuskan untuk mencintai, kenapa aku tidak bisa menyadari kalau cintaku telah tumbuh begitu dalam ? Tidak tahu pasti kapan -tepatnya aku mulai merasakan takut kehilangan gadis itu, -Arin. Rasa ini makin menjalar entah kemana. Membuntukan otakku, bahkan membutakan mata hatiku. Sadar atau tidak tidak, cinta ini tumbuh dengan liarnya. Mencari segala cara agar bisa menunjukkan betapa aku sangat mencintai Arin. Melakukan hal-hal bodoh, sampai nekat mendaki puncak hanya untuk berteriak , “ AKU SANGAT MENCINTAIMU, ARIN!! “ .

            Saat aku memilih untuk jatuh cinta, bahkan aku bukan lagi Iris yang sama. Bukan Iris yang aku kenal. Merasa bahwa cinta yang aku punya ini bukanlah cinta semu, ini begitu nyata dan sejati. Ini cinta mati. Dan Arin harus percaya itu. Dengan segala pembuktian, aku berusaha dengan  begitu keras dan gigihnya agar Arin juga merasakan cinta yang kuat –sama persis seperti cintaku padanya. Tapi lagi-lagi cinta ini sudah membutakan jalan pikiranku. Bagaimana mungkin Arin bisa memiliki kadar cinta yang sama persis seperti milikku ? Bisa saja aku yang terlalu mencintainya, sedangkan ia hanya menerima segala tumpahan kasih sayangku. Sekali lagi, Arin tidak akan mencintai aku seperti aku mencintainya. Hanya aku yang mencintainya sekuat ini, orang lain tidak akan bisa. 

            Berhasilkah usahaku ? Aku pun tidak tahu ~ Arin yang tahu jawabannya. Sekarang yang aku lakukan, harus mulai darimana lagi ? Agar aku benar-benar bisa berada di dalam hatinya. Nyaris saja aku buta jalan, sekali lagi –karena cinta ini begitu kuat dan besar .

            Kisah ini tak jauh berbeda dari pendahuluku. Sama seperti orang-orang diluar sana. Merasakan bagaimana mencintai dan dicintai ~ Berhenti menangis saat berada dalam dekapannya. Tertawa bersama. Menginjak bara panas pun bersama-sama juga. Dan pada akhirnya saling membunuh perasaan satu sama lain. Dengan tikaman yang langsung terhunus ke dalam jantung, atau dengan sebuah pengkhianatan yang aku sadari di puncak kisah cinta kami. Lagi ? Sebenarnya terasa sakit memang saat kita tak bisa lagi menjadi penyangga cintanya. Sebenarnya terasa sakit memang saat kita ditusuk dari belakang tanpa terdengar kata maaf atau merasa sesal. Sebenarnya terasa sakit memang saat tahu bahwa pengkhianat yang paling berbahaya itu adalah cinta kita sendiri.

            Bagaimana mengadilinya ? Hanya Tuhan yang punya kehendak-Nya          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar