Jika saja aku mampu membelah isi otakku. Aku akan mencari dimana kau terduduk. Karena aku tahu, kau ada di setiap sudut pikiranku. Kau hanya terduduk disana, mendiami pikiran dan tubuhku, agar nantinya aku gila karenamu. Dan selalu menangis karena namamu juga, Jung Soo ~
Akan kucabik-cabik keberadaanmu di otakku. Akan kubuang jauh-jauh. Atau, sekalian saja dibakar. Karena keberadaanmu di sini, sangat membebaniku. Kau membuatku nyaris mati. Dan itu karena namamu ~
Jika saja aku bisa hilang ingatan,
tentunya aku akan sangat bersyukur kepada Tuhan. Karena kau akan pergi dari
pikiranku, -dan hidupku. Tapi, jika hilang ingatan itu tak pernah terjadi, aku
rela jika Tuhan melumpuhkan segala ingatanku tentangmu.
Kau ~ Selalu ada di mataku. Saat
mataku tertutup, maupun saat terbuka. Setiap aku beranjak tidur, kau jadi
pemandangan pertama yang aku lihat di kegelapan. Bahkan, saat aku membuka
mataku, kau adalah bayangan semu yang paling awal kulihat. Kau hanyalah sebuah
tanda semu yang tak pernah menjadi nyata. Kau adalah sehelai daun yang pergi
terbawa angin kencang, -dan tidak akan pernah mungkin kembali tumbuh di sisiku
lagi. Satu kenyataan yang tak pernah bisa aku terima ;kau terlalu kejam karena
telah menyepakku begitu saja dari kisah kita yang kuanggap indah .
**
“ Kau akan selamanya berada dipelukku , “ janji Jung Soo padaku saat
dia tahu keadaanku yang sesungguhnya. Keadaannku yang buruk. Karena satu
penyakit yang tak pernah ingin aku miliki, sekarang menggerogoti di setiap
sel-sel darah tubuhku. Aku bersyukur memilikinya
~
**
“ Mungkin ini yang dinamakan cinta pertama. Aku bersyukur, Tuhan
telah mempertemukan aku dengan cinta
pertamaku .. “ bisik Jung Soo lirih, sambil memelukku erat. Jemari-jemariku
pun tak luput dari gengamannya.
“ Aku sangat mencintaimu, Jung Soo ~ “ bisikku setengah menangis.
**
“
Selamat hari jadi kita di bulan ketiga ~ Apa doamu sayang ? “ Tanya Jung Soo
dengan nada senang dari seberang. Aku menarik selimutku, lalu menjawab , “ Hmm
.. Aku ingin hubungan kita terus berlanjut di bulan-bulan kedepannya. Lalu, aku
ingin kamu tetap bersamaku apa pun keadaannya. Apa lagi ya ? Aku juga mau kamu
diberi kasih sayang yang besar sama Tuhan agar selalu sehat dan bahagia. Kalau
kamu ? “ tanyaku balik.
“ Aku berharap kamu segera sembuh. Aku berharap agar kamu
selalu sehat. Agar kamu bisa seperti
orang lain. Pergi kemana pun yang kamu mau, melakukan apa saja yang kamu mau.
Aku cuma ingin kamu cepat sembuh dan sehat. Itu saja ~ Aku tidak mau kamu kesakitan lagi tiap malam, aku tidak mau
mendengar rintihan saat kamu merasa
amat sakit. Aku ingin kamu segera sembuh
~ “
**
“ Lahirkan 4 anak untukku , “ pinta
Jung Soo sambil merapatkan pelukannya.
“ Aku tidak mau. Apa kau sedang
melamarku ? Cincin saja tidak kau berikan .. “ jawabku ketus. Tapi Jung Soo hanya
diam dan mengecup keningku dengan
lama. Kemudian, ia hanya rebah manja di bahuku. Aku hanya bisa memeluknya ~
**
“ Tidak ada lagi alasan untukku
melanjutkan hubungan ini. Aku sudah tidak bisa lagi. Aku merasa sangat letih ~
Tolong .. Lepaskan aku, Ah Jung-ah .. “ pintanya seraya melepaskan tanganku
dari tangannya.
“ Bukan hanya kau saja yang letih.
Aku juga .. Kita pasti bisa melewati semua masalah-masalah ini, Jung Soo .. “
bujukku lagi .
“ Kalau kau sudah merasa letih juga,
jangan dipaksakan lagi. Ayo kita akhiri saja hubungan ini. Terlalu banyak
masalah yang aku hadapi saat bersamamu. Kau sakit, dan semua masalah-masalah
yang lainnya. Aku tidak sanggup lagi menerima keadaan kita. Tolong Ah Jung-ah,
jangan dipaksakan lagi. Hubungan kita sudah seharusnya berakhir sekarang. “
paksa Jung Soo untuk segera melepaskan hubungan kami. Aku tidak mau. Aku harus
mempertahankannya.
“
Sekali lagi Jung Soo .. Pasti semua akan baik-baik saja. Kita hadapi
bersama-sama ~ “ pintaku lagi.
“
Jadi kau mau kita bersama lagi ? Baiklah .. Tapi nantinya yang akan kasihan kau
juga . “ kata Jung Soo yang membuatku bingung .
“
Maksudmu ? “
“
Iya, kau lihat saja nanti . “
“
Aku hanya mau hubungan kita tetap berlanjut .. “
“
Baiklah jika itu maumu. Apa yang terjadi kedepannya, jangan salahkan aku ! “
**
Sekarang
aku mengerti apa arti kecamanmu waktu itu. Seperti inilah kisah kita. Kau pergi
dan tak pernah memberi aku sedikit pun kabar. Kau mengabaikanku. Kau lari dan
sembunyi dari semua masalah yang seharusnya menjadi hukuman kita berdua.
Tanpa
kata .. Tanpa isyarat .. Kau tinggalkan aku tanpa beralasan. Setiap bertemu
denganku, yang kau lakukan hanya pergi menjauh dan tak pernah mau melihatku.
Menoleh saja kau tak mau. Sebenci inikah kau padaku ? Sampai aku berpikir
berulang kali ; apa salahku, Jung Soo ?
Apa
benar kau membenciku ? Kadang aku menepis kenyataan itu. Tapi sebuah tamparan
keras baiknya menyadarkanku. Harusnya aku tahu, dan sadar bahwa kau memang
ingin lepas dariku. Tak ada keinginan untuk kembali. Tak ada keinginan untuk
berbalik padaku lagi.
Kenapa kau meninggalkan aku dengan
sejuta kenangan indah yang pernah kita ciptakan ? Kenapa ? Kenapa kau membuat
skenario kisah kita begitu sempurna ? Kenapa kau pernah meneteskan air matamu hanya untuk nyawaku ?
Seharusnya kau tidak memberiku semua keindahan itu kalau pada akhirnya semuanya
hanya membekas tak bersisa. Tak ada gunanya lagi kenangan-kenangan ini kalau
tak ada kau lagi di hidupku. Untuk apa ? Untuk apa membekas ?
Kenangan
kita akan selalu membekas. Sama seperti luka yang kau tusukkan di jantungku.
Memang masih basah, tapi lama-kelamaan luka itu akan mengering seiring berjalan
waktu. Sayangnya, luka yang tusukkan itu akan tetap membekas di jantung ini.
Tak akan pernah bisa hilang dan sempurna seperti di awal saat aku belum bertemu
denganmu .
Aku
pernah mencintaimu dengan segala nyawaku. Aku pernah mencintaimu dengan segala
kekurangan yang aku punya. Tapi sekarang, aku sedang berusaha mati-matian agar
segera mengakhirkan lakonannmu di pikiranku. Karena bekas luka yang pernah kau
tusukkan di jantungku, terus memompa darah yang berisi kenangan kita ke dalam
otakku ,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar