Kamis, 30 Januari 2014

[STORY] WHEN "ROMEO" LEAVES "JULIET" ~

 

Jika saja aku mampu membelah isi otakku. Aku akan mencari dimana kau terduduk. Karena aku tahu, kau ada di setiap sudut pikiranku. Kau hanya terduduk disana, mendiami pikiran dan tubuhku, agar nantinya aku gila karenamu. Dan selalu menangis karena namamu juga, Jung Soo ~


Akan kucabik-cabik keberadaanmu di otakku. Akan kubuang jauh-jauh. Atau, sekalian saja dibakar. Karena keberadaanmu di sini, sangat membebaniku. Kau membuatku nyaris mati. Dan itu karena namamu ~ 





Jika saja aku bisa hilang ingatan, tentunya aku akan sangat bersyukur kepada Tuhan. Karena kau akan pergi dari pikiranku, -dan hidupku. Tapi, jika hilang ingatan itu tak pernah terjadi, aku rela jika Tuhan melumpuhkan segala ingatanku tentangmu. 
Kau ~ Selalu ada di mataku. Saat mataku tertutup, maupun saat terbuka. Setiap aku beranjak tidur, kau jadi pemandangan pertama yang aku lihat di kegelapan. Bahkan, saat aku membuka mataku, kau adalah bayangan semu yang paling awal kulihat. Kau hanyalah sebuah tanda semu yang tak pernah menjadi nyata. Kau adalah sehelai daun yang pergi terbawa angin kencang, -dan tidak akan pernah mungkin kembali tumbuh di sisiku lagi. Satu kenyataan yang tak pernah bisa aku terima ;kau terlalu kejam karena telah menyepakku begitu saja dari kisah kita yang kuanggap indah . 
**
            “ Kau akan selamanya berada dipelukku , “ janji Jung Soo padaku saat dia tahu keadaanku yang sesungguhnya. Keadaannku yang buruk. Karena satu penyakit yang tak pernah ingin aku miliki, sekarang menggerogoti di setiap sel-sel darah tubuhku. Aku bersyukur memilikinya ~
**
            “ Mungkin ini yang dinamakan cinta pertama. Aku bersyukur, Tuhan telah mempertemukan aku dengan cinta pertamaku .. “ bisik Jung Soo lirih, sambil memelukku erat. Jemari-jemariku pun tak luput dari gengamannya. 
            “ Aku sangat mencintaimu, Jung Soo ~ “ bisikku setengah menangis.
**
“ Selamat hari jadi kita di bulan ketiga ~ Apa doamu sayang ? “ Tanya Jung Soo dengan nada senang dari seberang. Aku menarik selimutku, lalu menjawab , “ Hmm .. Aku ingin hubungan kita terus berlanjut di bulan-bulan kedepannya. Lalu, aku ingin kamu tetap bersamaku apa pun keadaannya. Apa lagi ya ? Aku juga mau kamu diberi kasih sayang yang besar sama Tuhan agar selalu sehat dan bahagia. Kalau kamu ? “ tanyaku balik.
            “ Aku berharap kamu segera sembuh. Aku berharap agar kamu selalu sehat. Agar kamu bisa seperti orang lain. Pergi kemana pun yang kamu mau, melakukan apa saja yang kamu mau. Aku cuma ingin kamu cepat sembuh dan sehat. Itu saja ~ Aku tidak mau kamu kesakitan lagi tiap malam, aku tidak mau mendengar rintihan saat kamu merasa amat sakit. Aku ingin kamu segera sembuh ~ “
**
            “ Lahirkan 4 anak untukku , “ pinta Jung Soo sambil merapatkan pelukannya. 
            “ Aku tidak mau. Apa kau sedang melamarku ? Cincin saja tidak kau berikan .. “ jawabku ketus. Tapi Jung Soo hanya diam dan mengecup keningku dengan lama. Kemudian, ia hanya rebah manja di bahuku. Aku hanya bisa memeluknya ~
**
            “ Tidak ada lagi alasan untukku melanjutkan hubungan ini. Aku sudah tidak bisa lagi. Aku merasa sangat letih ~ Tolong .. Lepaskan aku, Ah Jung-ah .. “ pintanya seraya melepaskan tanganku dari tangannya. 
            “ Bukan hanya kau saja yang letih. Aku juga .. Kita pasti bisa melewati semua masalah-masalah ini, Jung Soo .. “ bujukku lagi .
            “ Kalau kau sudah merasa letih juga, jangan dipaksakan lagi. Ayo kita akhiri saja hubungan ini. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi saat bersamamu. Kau sakit, dan semua masalah-masalah yang lainnya. Aku tidak sanggup lagi menerima keadaan kita. Tolong Ah Jung-ah, jangan dipaksakan lagi. Hubungan kita sudah seharusnya berakhir sekarang. “ paksa Jung Soo untuk segera melepaskan hubungan kami. Aku tidak mau. Aku harus mempertahankannya. 
“ Sekali lagi Jung Soo .. Pasti semua akan baik-baik saja. Kita hadapi bersama-sama ~ “ pintaku lagi. 
“ Jadi kau mau kita bersama lagi ? Baiklah .. Tapi nantinya yang akan kasihan kau juga . “ kata Jung Soo yang membuatku bingung . 
“ Maksudmu ? “
“ Iya, kau lihat saja nanti . “
“ Aku hanya mau hubungan kita tetap berlanjut .. “
“ Baiklah jika itu maumu. Apa yang terjadi kedepannya, jangan salahkan aku ! “
**
            Sekarang aku mengerti apa arti kecamanmu waktu itu. Seperti inilah kisah kita. Kau pergi dan tak pernah memberi aku sedikit pun kabar. Kau mengabaikanku. Kau lari dan sembunyi dari semua masalah yang seharusnya menjadi hukuman kita berdua.
            Tanpa kata .. Tanpa isyarat .. Kau tinggalkan aku tanpa beralasan. Setiap bertemu denganku, yang kau lakukan hanya pergi menjauh dan tak pernah mau melihatku. Menoleh saja kau tak mau. Sebenci inikah kau padaku ? Sampai aku berpikir berulang kali ; apa salahku, Jung Soo ? 
            Apa benar kau membenciku ? Kadang aku menepis kenyataan itu. Tapi sebuah tamparan keras baiknya menyadarkanku. Harusnya aku tahu, dan sadar bahwa kau memang ingin lepas dariku. Tak ada keinginan untuk kembali. Tak ada keinginan untuk berbalik padaku lagi. 
Kenapa kau meninggalkan aku dengan sejuta kenangan indah yang pernah kita ciptakan ? Kenapa ? Kenapa kau membuat skenario kisah kita begitu sempurna ? Kenapa kau pernah  meneteskan air matamu hanya untuk nyawaku ? Seharusnya kau tidak memberiku semua keindahan itu kalau pada akhirnya semuanya hanya membekas tak bersisa. Tak ada gunanya lagi kenangan-kenangan ini kalau tak ada kau lagi di hidupku. Untuk apa ? Untuk apa membekas ?
            Kenangan kita akan selalu membekas. Sama seperti luka yang kau tusukkan di jantungku. Memang masih basah, tapi lama-kelamaan luka itu akan mengering seiring berjalan waktu. Sayangnya, luka yang tusukkan itu akan tetap membekas di jantung ini. Tak akan pernah bisa hilang dan sempurna seperti di awal saat aku belum bertemu denganmu .
            Aku pernah mencintaimu dengan segala nyawaku. Aku pernah mencintaimu dengan segala kekurangan yang aku punya. Tapi sekarang, aku sedang berusaha mati-matian agar segera mengakhirkan lakonannmu di pikiranku. Karena bekas luka yang pernah kau tusukkan di jantungku, terus memompa darah yang berisi kenangan kita ke dalam otakku ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar